Sampai di Situs Sejarah Ende bagian 3.
Di sini, kita akan membahasa peninggalan sejarah Bung Karno yang lain selain rumah pengasingan itu.
Ingat kan di Situs Sejarah Ende part II,ada cerita tentang tongkat
berkepala kera milik Bung Karno? Nah kita akan membahsanya sekarang..
Usut punya usut nih,tongkat itu selalu digunakan Bung Karno untuk
membalas anggukan hormat orang Belanda padanya. Bung Karno membalas
hormat orang Belanda bukan dengan anggukan juga melainkan hanya dengan
mengarahkan tongkat berkepala kera itu ke arah mereka.
Apa artinya ya?
Nah,Bung Karno mengisyaratkan satu pendirian bahwa sifat-sifat penjajah
hanya bisa dihargai oleh binatang tidak oleh manusia. Wew?! Sungguh
gagah dan beraninya Bung Karno. Beliau memang mempunyai rasa
nasionalisme tinggi dan sangat anti dengan penjajahan. Ini satu hal yang
menjadi pelajaran bagi kkita yang harus tetap menjaga rasa
nasionalisme.
Selain tongkat,ada peninggalan Bung Karno yang lagi-lagi sangat menjunjung tinggi nasionalisme.
Selama pengasingan,Bung Karno mencoba mengungkapkan isi hatinya ke dalam
sebuah lukisan. Ya, beliau memang pandai melukis. Dalam catatan
hidupnya, beliau adalah siswa HBS Surabaya yang cukup menonjol dalam
pelajaran melukis(meskipun tak pernah lebih tinggi dibanding siswa
Belanda).
Di dalam lukisan tersebut terdapat sebuah pura yang di depannya duduk
empat orang yang sedang berdoa. Empat orang tersebut adalah pemeluk
agama Islam,Kristen,Hindu,juga Budha. Di atas pura tersebut ada sebuah
helm yang posisinya miring.
Hm,arti lukisannya apa ya?
Ayo jadi warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi rasa nasionalisme. Menjadi seorang nasionalis dimulai dari dalam hati. Jadi diri sendiri dengan melakukan hal-hal kecil berusaha membawa nama bangsa ke mata dunia. Ayo…berusaha bersama untuk bisa berprestasi melalui jalan kita masing-masing. Dengan berprestasi nama negara kita akan dikenal dunia sebagai bangsa yang cerdas dan membanggakan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Kamis, 17 Mei 2012
-Situs Sejarah Ende-Bagian 2
Guys...kembali kita akan berbicara soal Situs Sejarah yang ada di Ende ya?
Ingat kan di part I, Bung Karno diasingkan di sebuah rumah sederhana milik Haji Abdullah Ambuwaru. Sekarang, kita akan membahasnya lebih dalam rumah itu ya?
Dimulai dari letaknya. Rumah sederhana ini terletak di Jalan Perwira (200 meter dari Hotel Dwi Putra [kyk nama temen saya,hehe :D] Ende).
Di halaman depan rumah, dipasang papan dengan tulisan "BEKAS RUMAH PENGASINGAN BUNG KARNO". Hsstt..rumah ini dianggap sakral oleh masyarakat sekitar. Bahkan, siapapun yang ingin masuk dalam rumah itu harus minta izin pada beliau dengan mengucap "permisi". Katanya sih, ada aja halangannya kalau kita nggak bilang "permisi", misalnya
Ingat kan di part I, Bung Karno diasingkan di sebuah rumah sederhana milik Haji Abdullah Ambuwaru. Sekarang, kita akan membahasnya lebih dalam rumah itu ya?
Dimulai dari letaknya. Rumah sederhana ini terletak di Jalan Perwira (200 meter dari Hotel Dwi Putra [kyk nama temen saya,hehe :D] Ende).
Di halaman depan rumah, dipasang papan dengan tulisan "BEKAS RUMAH PENGASINGAN BUNG KARNO". Hsstt..rumah ini dianggap sakral oleh masyarakat sekitar. Bahkan, siapapun yang ingin masuk dalam rumah itu harus minta izin pada beliau dengan mengucap "permisi". Katanya sih, ada aja halangannya kalau kita nggak bilang "permisi", misalnya
-Situs Sejarah Ende-Bagian 1
Kota Ende (Flores) menjadi salah satu situs sejarah masa penjajahan
Belanda. Ya guys, kota ini menjadi salah satu tujuan pengasingan
presiden pertama kita, Bung Karno.
Beliau (saat itu berumur 35 tahun) diasingkan di Ende selama empat tahun 1934-1938 oleh Belanda. Beliau diasingkan karena begitu aktifnya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Belanda menganggap Bungk Karni adalah ancaman besar keberlangsungan penjajahan mereka.
Sesuai dengan surat keputusan Belanda pada tanggal 28 Desember 1933, Bung Karno harus diasingkan ke Ende bersama Inggit Gunarsih(istrinya), Amsih(mertuanya), juga dua anak angkatnya, Ratna dan Kartika sebagai tahanan politik.
Saat Bung Karno diasingkan, Ende masih kota. Di sana masih banyak hutan,kebun karet, juga tanaman rempah-rempah. Transportasi di sana juga masih minim (belum ada pelabuhan dan bandara). Bahkan, rumah penduduk di sana masih bisa dihitung jari lho!
Beliau (saat itu berumur 35 tahun) diasingkan di Ende selama empat tahun 1934-1938 oleh Belanda. Beliau diasingkan karena begitu aktifnya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Belanda menganggap Bungk Karni adalah ancaman besar keberlangsungan penjajahan mereka.
Sesuai dengan surat keputusan Belanda pada tanggal 28 Desember 1933, Bung Karno harus diasingkan ke Ende bersama Inggit Gunarsih(istrinya), Amsih(mertuanya), juga dua anak angkatnya, Ratna dan Kartika sebagai tahanan politik.
Saat Bung Karno diasingkan, Ende masih kota. Di sana masih banyak hutan,kebun karet, juga tanaman rempah-rempah. Transportasi di sana juga masih minim (belum ada pelabuhan dan bandara). Bahkan, rumah penduduk di sana masih bisa dihitung jari lho!
Langganan:
Postingan (Atom)


